Saturday, January 02, 2010

“Karena kami punya hati”


“Karena kami punya hati”, itulah ungkapan yang keluar dari mulut Thomas, pria setengah baya yang bermukim di Bobrtizsch, sebuah desa dekat Freiberg, Germany. Jawaban itu terlontar setelah aku mempertanyakan mengapa mereka menggantung “sesuatu” di dahan pohon yang sedang tidak berdaun itu. Thomas, kepala keluarga dengan 3 orang anak, berkata bahwa “sesuatu” itu sengaja digantungkan olehnya untuk memberi makan burung-burung wallet yang banyak beterbangan di daerah seputaran rumahnya. Pada musin dingin seperti ini, burung-burung wallet itu kesulitan untuk mencari makanan. Salju yang turun dan menutupi hampir seluruh permukaan bumi, termasuk dedaunan yang masih bertahan di dahan, membuat peluang wallet untuk mendapatkan makanan semakin kecil. Dalam kondisi demikian, Thomas dan anggota keluarga yang lain memutuskan untuk meramu makanan, mengemasnya dengan baik untuk dapat dengan mudah dipatuk oleh wallet untuk dimakan lalu digantung di dahan pohon sehingga dapat dijangkau dengan mudah oleh si wallet. Bahkan, keluarga ini juga menyiapkan sebuah “rumah” khusus bagi wallet yang kedinginan. Rumah kecil ini dibuat sedemikian rupa kemudian digantungkan di loteng dekat balkon, sehingga mudah dikenali oleh burung wallet yang melintas. Begitu perhatiannya mereka akan kehidupan ini, sehingga rela berbuat apa saja untuk melestarikan setiap penghuninya.
Hmmmm, aku tiba-tiba saja teringat bagaimana burung Cendrawasih di Papua yang sudah nyaris punah karena keserakahan manusia, atau Harimau sumatera yang jumlahnya semakin langka, mati dibunuh oleh manusia karena katanya Harimau sering mengancam keselamatan manusia (atau manusia yang sering mengancam keselamatan Harimau?). Semoga kita lebih mampu menghargai kehidupan yang indah ini.

Tuesday, November 17, 2009

Surat Cinta Buat Istriku


sayang, malam ini aku merindukanmu
dalam kesendirian di negeri orang
aku merindukan hangat keluarga kita

aku teringat malam-malam yang sering kita lewati bersama
di kota itu
berdua kita bercanda, berdua kita tertawa, berdua kita bahagia
ya, kita selalu berdua, bersama

aku teringat sebuah malam yang sangat istimewa
ketika itu kita sedang menikmati sebuah acara di televisi
yang memperdengarkan lagu-lagu cinta yang menyentuh kalbu
naluriku berkata ini adalah waktu kita

aku raih tanganmu, aku genggam jemarimu, lalu aku rangkul tubuhmu
dengan ikhlas kamu menerima semuanya
lalu kaki kita bergerak melangkah maju dan mundur, lalu kesamping
dengan irama yang tidak beraturan
tanpa disadari, kita mulai berdansa,
dengan cara kita sendiri
dengan jemari yang saling tergenggam
seolah tidak ingin melepaskan
dengan tubuh yang saling terangkul
seolah tidak ingin jarak memisahkan
kita sangat bahagia malam itu,
kita sangat menikmatinya
serasa waktu berhenti

sayang, kini aku sedang merindukanmu

dalam jarak yang terbentang jauh
aku merindukan malam-malam bersamamu
berharap bisa mengulanginya lagi
walaupun aku harus menunggu
sampai saatnya tiba
demi sebuah cita
untuk keluarga yang kita bangun

Agricolastasse 16, Freiberg
Germany

Thursday, November 05, 2009

Elang


engkau terbang tinggi di awan
melaju kencang tanpa batas
menukik dan memutar, melenggang dengan leluasa
menyisir hutan, gunung, dan lautan
mengikuti apa kata hatimu
yang hanya engkau yang tahu, Elang

engkau mahluk yang gagah
mahluk yang kuat nan perkasa
nyaris tanpa tanding
paling tidak itulah mereka

engkau teman yang bijak bagi para sahabatmu
karena engkau selalu ada disaat mereka membutuhkanmu
memberi semangat bagi mereka yang jatuh
memberi arti bagi mereka yang tidak berarti
dan menjadi tempat untuk berbagi

engkau lawan yang menakutkan bagi musuhmu
karena engkau bisa menerkam siapa saja dari ketinggian
mencengram dan melumat habis mereka tanpa sisa
demi kehormatan yang engkau emban
demi cinta yang engkau miliki

Elang, banyak yang menginginkan menjadi seperti dirimu
melenggang bebas dikewanginan jagad raya
tapi mereka tidak berani, bukan tidak mampu
mereka memilih untuk tinggal di sarang, di tenda, atau di rumah
dan disaat yang sama mereka iri padamu
mereka mencaci dan memaki, menghujat setiap langkahmu
bahkan mengharamkan dirimu berdekatan dengan mereka

namun Elang, engkau tidak menggubris
tidak bereaksi apa-apa
hanya tetap terbang, dan terus terbang,
sendirian tanpa peduli
karena kamu yakin, apa yang kamu lakukan tulus buat mereka
tulus buat musuhmu, terlebih buat sabatmu,
terlebih buat dia yang engkau cintai

tapi Elang, ijinkan aku bertanya padamu
tidakkah engkau pernah merasakan kesepian?
tidakkah engkau pernah merasakan kesedihan?
tidakkah engkau pernah mengalami tangis?
tidakkah engkau pernah merindukan untuk beristirahat sejenak di bumi?

maafkan aku Elang untuk bertanya seperti ini
karena aku tahu, didalam segala keperkasaanmu
kamu adalah mahluk yang juga punya perasaan
sama seperti aku..

sang Syahrir,
Studentwohnheim Agricolastrasse 16, Zimmernummer 2316 B
Freiberg-Sa, Germany

Saturday, October 31, 2009

Pelayanan Publik dan Pengalaman Masa Kecil



Foto di samping saya ambil di salah satu terminal keberangkatan domestic bandara Soekarno-Hatta Jakarta beberapa waktu yang lalu. Di foto ini tempak sebuah layanan jasa pengemasan bagasi bagi pada penumpang untuk memastikan barang-barang bawaannya aman selama berada di bagasi pesawat. Atau dengan kata lain bagi mereka yang khawatir akan keamanan barang bawaannya. Harga perkoli untuk pengemasan kalau tidak salah berkisar antara 30-40 ribu rupiah. Jasa pengemasan ini sudah berlangsung beberapa lama, mungkin sudah beberapa bulan, mungkin sudah setahun, tapi tepatnya belum dua tahun. Sebuah bisnis baru yang menggiurkan.
Dilihat dari sudut pandang bisnis, layanan jasa pengemasan ini merupakan bisnis yang menarik, karena semakin hari jumlah penumpang pesawat terbang semakin meningkat, ini artinya peluang pasarnya semakin hari semakin besar. Namun, bagaimanakah bisnis ini jika dilihat dari sudut pandang pelayanan public? Mari kita lihat.
Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, bahwa bisnis ini dimulai beberapa bulan yang lalu. Bisnis ini muncul dan berkembang terutama saat ramainya pecurian barang-barang berang berharga di bagasi, terutama di bandara-bandara besar termasuk Soetta. Pada saat itu ramai diberitakan orang-orang yang mengadu akibat kehilangan barang di bagasi. Halaman surat pembaca di media cetak pun tidak luput dari sasaran media pengaduan, mungkin karena melapor ke pihak yang berwenang diaggap tidak akan mendapat respon yang baik. Seiring dengan itu, pihak kepolisian juga dilaporkan menangkap pelaku spesialis pencurian barang bagasi dan jaringannya. Mereka (sudah bisa ditebak) adalah “orang dalam” yang bertugas mengangkat dan memindahkan bagasi penumpang ke pesawat dengan baik dan benar. Intinya, pelaku adalah orang-orang yang bertugas melayani bagasi para penumpang. Akan tetapi pencurian barang-barang bagasi tetap saja terjadi. Seorang teman mengaku pernah kehilangan GPS di bagasi, dan saya sendiri pun pernah kehilangan sejumlah uang hanya karena saya lupa mengeluarkan dompet dari tas yang akan masuk bagasi. Rupanya maraknya penumpang yang kehilangan barang ini dimanfaatkan oleh mereka yang berjiwa bisnis untuk menawarkan jasa pengemasan. Tidak tanggung-tanggung, seluruh bagian barang bawaan dikemas dengan gulungan plastic berlapis-lapis untuk menghindari pembobolan.
Perasaan sedih kemudian muncul. Betapa tidak, hak penumpang untuk mendapatkan pelayanan yang baik di bandara hilang begitu saja akibat keamanan bagasi yang tidak terjamin. Tidak sampai di situ saja, hak itupun kemudian dibajak oleh orang-orang tertentu untuk menawarkan jasa pengemasan bagasi. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah tidak mendapatkan pelayanan yang baik yang semestinya sudah menjadi hak, disuruh bayar pula untuk mendapatkannya. Kritik saya kemudian tertuju kepada pengelola bandara (PT Angkasa Pura). Ketidakmampuan mereka dalam menjaga keamaanan bagasi penumpang bukannya diatasi dengan memperbaiki system keamanan atau tindakan solutif lainnya, malahan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menawarkan jasa keamanan bagasi. Tidak adanya niat baik untuk memperbaiki pelayanan bandara, diperparah dengan menarik ongkos sewa lahan dari pemilik usaha pengemasan. Itupun kalau sang pemilik usaha bukan orang PT. Angkasa Pura itu sendiri atau koleganya.
Tampaknya naiknya harga pajak bandara yang selama ini dijanjikan untuk peningkatan pelayanan, ternyata hanya janji belaka. Tidak ada peningkatan yang berarti, selain jumlah toilet yang bertambah.
Di penghujung tulisan, saya ingin bercerita tentang pengalaman masa kecil.
Saya teringat sebuah kisah dengan seorang teman saya. Awalnya dia seorang yang gemar mencuri sandal di masjid. Senang sekali dia tampaknya dengan kebiasaannya itu. Setelah berulang kali mendapat teguran dari saya, dengan sedikit menyinggung-nyinggung dosa dan Tuhan, dia kemudian beralih kebiasaan. Menjadi penjaga tempat penitipan sandal pun dilakoninya. Pekerjaannya memastikan sandal-sandal para jamaah aman dan tidak tertukar. Sebua pekerjaan yang jauh lebih mulia tentunya daripada mencuri sandal. Semakin lama tampak semakin banyak saja orang yang menitipkan sandalnya. Senang sekali dia tampaknya dengan pekerjaan barunya ini. Lebih senang dari sebelumnya. Sampai suatu saat saya pun bertanya apa rahasia kemajuan “usahanya” ini. Dia pun menjawab dengan bangganya, “kalau aku liat orang yang sandalnya bagus dan tidak dititipkan ke sini, maka sandalnya akan aku curi. Pasti besoknya dia akan menitipkan sandalnya di sini”. Oh my god.

Friday, September 18, 2009

Masih di Indonesia


Jarum jam menunjukkan angka 11.10 menit waktu aku mendengar pengumuman penumpang Malaysia Airlines tujuan Kuala Lumpur diminta untuk masuk ke ruang tunggu. Setelah bersalaman dan berpamitan akupun bergegas menuju ruang tunggu. Setelah membayar pajak bandara, dan melewati konter bebas fiskal, aku diminta ke loket imigrasi. Ada dua loket disana, tetapi yang satunya kosong. Artinya, aku harus ke loket yang terisi oleh petugas. Awalnya aku tidak berniat ke loket itu, akan tetapi mereka mengharuskannya. Akhirnya akupun mengalah dan menujulah aku ke loket yang bertuliskan “Foreigner Only”. Oh Tuhan, ini masih di Indonesia, itulah mengapa aku berkeras tidak menuju loket itu awalnya, karena aku bukan orang asing, tapi mereka menyuruhku. Oh Tuhan, ini masih di Indonesia, itulah mengapa para petugas sendiri yang memaksa aku untuk melanggar aturan,bukan mengikuti aturan. Oh Tuhan, Indonesia masih saja seperti ini.
Pengalaman diharuskan untuk melanggar aturan seperti ini memang bukan pertama kali aku alami. Namun setiap itu terjadi, selalu saja menyesakkan dada. Beberapa waktu yang lalu aku juga punya pengalaman menarik (atau menyedihkan) di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Kabupaten Sleman. Waktu itu aku ke sana untuk mengambil Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang baru setelah dengan susah payah dan penuh perjuangan aku pindahkan dari KPP Kota Yogyakarta karena memang aku sudah pindah domisili (untuk kesekiankalinya) ke Sleman. Kami (aku dan istri) sengaja berangkat menjelang istirahat siang berakhir dengan harapan mendapat pelayanan pertama setelah jam istiharat. Sesampai di KPP, aku lalu menuju loket pelayanan pengambilan NPWP dan istriku menunggu di tempat yang tidak jauh dari situ. Loket itu masih kosong, tidak ada petugas yang berjaga disana. Setelah aku melirik, jam dinding menunjukkan pukul 12.45, artinya waktu istirahat masih ada 15 menit lagi. Tunggu punya tunggu, dan beberapa orang pun berdatangan, duduk di sebelahku untuk kepentingan yang sama denganku. Jam dinding menujukkan pukul 13.10 ketika loket itu masih saja kosong. Aku mulai gelisah. Aku kemudian menanyakan ke seorang petugas yang sedang bekerja di ruangan sebelahnya, dan katanya “tunggu saja disitu, orangnya masih istirahat”. Beberapa menit kemudian, aku menanyakan lagi ke petugas yang kebetulan melintas, dan katanya “tunggu sebentar pak, masih istirahat”. Aku semakin tidak sabar, bagaimana mungkin aku disuruh menunggu tanpa ada kepastian di sebuah kantor pelayanan publik, yang notabene mahluk-mahluk yang bekerja didalamnya digaji dari pajak yang aku bayarkan? Ternyata bukan hanya aku yang gelisah, orang-orangpun semakin tidak sabar. Seorang bapak, yang usianya sekitar 50an tahun kemudian beranjak untuk menanyakan lagi ke petugas yang berada di tempat lain lagi. Petugas yang ini ternyata cukup memberikan solusi, tidak seperti yang lain meminta kami untuk menunggu saja. Dia lalu menyuruh kami, para penunggu NPWP, untuk memasuki sebuah ruangan, yang katanya petugas pelayanan NPWP ada di dalam ruangan itu. Karena aku meragukan perintah petugas itu, aku kemudian menanyakan lagi kepastiannya. “Masuk ke ruang itu pak?”. Jawabnya “iya, petugasnya ada di dalam” dengan yakinnya. Oh Tuhan, itu adalah ruangan yang di pintunya terdapat tulisan “Selain Petugas Dilarang Masuk”. Itulah mengapa aku meragukan perintah orang itu. Oh Tuhan, ternyata si petugas memaksa kami melanggar aturan yang mereka buat sendiri.
Cerita ini tidak berakhir sampai kami memasuki ruangan yang bertuliskan “Selain Petugas Dilarang Masuk” itu. Sesampainya kami didalam ruangan itu, petugas yang berada didalamya meminta kami untuk keluar. “Tunggu di luar saja pak!”. Merasa dilecehkan, akupun langsung bereaksi dengan keras “bapak yang di luar sana tadi yang menyuruh kami masuk ke sini, sekarang kamu menyuruh kami menunggu di luar saja, kalian ini gimana? kami sudah capek menunggu di luar dan sampai sekarang (pukul 13.40) petugasnya tidak ada”. Dengan perasaan sedikit tertekan, si petugas kemudian mengambil formulir yang ada ditangan kami untuk kemudian melayani pengambilan NPWP itu. Oh Tuhan, ternyata si petugas harus dimarahi dulu mau menjalankan tugasnya. Oh Tuhan, di sini, di Indonesia ini, ternyata kami harus marah dulu untuk mendapatkan apa yang telah menjadi hak kami.
Mengakhiri tulisan ini, aku teringat sebuah anekdot yang dipopulerkan oleh Gus Dur. Ketika suatu hari, tiga orang presiden (Amerika, China, Indonesia) kemudian menghadap Tuhan. Presiden Amerika kemudian bertanya “Tuhan, kapan rakyat Amerika akan sejahtera?”. Lalu Tuhan menjawab “20 tahun lagi”. Presiden Amerika pun menangis (memikirkan masih lamanya masyarakat Amerika sejahtera). Kemudian presiden China juga memberikan pertanyaan yang sama: “Tuhan, kapan rakyat China akan sejahtera?”. Tuhan menjawab “30 tahun lagi”. Lalu presiden China pun juga menangis. Yang terakhir, presiden Indonesia bertanya pertanyaan yang sama dengan dua presiden sebelumnya: “Tuhan, kapan kami akan sejahtera?”. Tuhan tidak menjawab apa-apa. Lalu Tuhan pun menangis.

Sunday, August 16, 2009

Memaknai Peringatan 17 Agustus Dalam Arti Kemerdekaan yang Sesungguhnya


Tulisan ini aku persembahkan untuk peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 64 tanggal 17 Agustus 2009.
Minggu lalu aku bertemu dengan beberapa orang teman di Jakarta. Dalam pembicaraan yang singkat itu kami membahas berbagai hal mulai dari pekerjaan masing-masing, permasalahan teroris yang sedang hangat-hangatnya, sampai hubungan dengan perempuan. Sebenarnya topik yang paling menarik adalah tentang perempuan, karena setiap kami memiliki pengalaman yang berbeda. Salah seorang diantaranya beristri dua dan mereka rukun-rukun saja, seorang yang lain juga beristri dua yang selalu bertengkar, seorang lagi beristri “hanya” satu tapi posesifnya minta ampun sampai buku rekeningnya pun harus diprint untuk melacak pengeluarannya, dan seorang yang lain juga beristri satu dengan privasi yang sangat tinggi dimana istrinya tidak pernah membuka dompet maupun handphone miliknya semenjak mereka menikah, tapi juga punya pacar seorang janda yang sebaya. Tapi tulisan hanya akan berbicara mengenai diskusi kami tentang pekerjaan.
Salah seorang dari kami bernama pak Dedy, seorang pengusaha muda lulusan negeri Paman Sam. Dalam usia 40an tahun, pak Dedy telah mengerjakan proyek-proyek skala besar mulai dari pembangunan rumah, jalan tol, sampai jalan tambang yang nilainya berkisar antara ratusan juta sampai trilyunan rupiah. Beliau juga mempunyai perusahaan yang tersebar di beberapa negara. Sebuah pencapaian yang cukup menakjubkan menurut aku. Pak Dedy, sang pengusaha muda, mengatakan bahwa dirinya telah sering mendapat penawaran untuk bergerak di bidang pertambangan. Akan tetapi sampai saat ini beliau tetap menolak untuk terlibat langsung dalam bisnis itu. Kalau membantu melakukan analisis beliau bersedia, dengan catatan tidak diminta terlibat langsung dalam proses penambangan. Alasannya, pertambangan, khususnya tambang terbuka, selain kayu, adalah bisnis yang berpotensi merusak lingkungan. Pertambangan menurutnya memiliki andil yang sangat besar dalam proses degradasi lingkungan. Sebuah idealisme yang sangat aku hargai, mengingat beliau adalah seorang pemilik saham pada holding company sebuah perusaan pertambangan batubara yang sangat besar di negeri ini. Menurutnya, beliau tidak pernah mengambil dan tidak mau memberi makan anak istrinya dari duit itu. Beliau memilih menyumbangkannya pada sebuah organisasi keagamaan terbesar di negara ini.
Prinsip yang dipegang oleh pak Dedy bukan tanpa alasan. Pengalaman beliau selama bertahun-tahun di Amerika memperlihatkan bagaimana Nevada dan Colorado, dua negara bagian di Amerika, hancur berantakan akibat kegiatan pertambangan. Cuaca yang tidak menentu, iklim yang semakin tidak terduga, serta akibat-akibat lain yang ditimbulkan telah menyebabkan kerusakan yang parah untuk generasi berikutnya. Dan nyawa-nyawa manusia menjadi taruhannya. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk-ngangguk karena tidak ada yang salah dari cerita pak Dedy itu.
Setelah pak Dedy mengakhiri ceritanya, aku pun berkomentar ”Amerika mendapatkan kompensasi yang jelas dari (rusaknya) Nevada dan Colorado, karena hasilnya tidak dibawa ke luar negeri, dan semuanya diinvestasikan kembali di dalam negeri. Bisnis terus berjalan di kedua negara bagian itu, dan masyarakatnya masih tetap eksis sampai sekarang. Kerusakan terkompensasi oleh rekayasa lingkungan dan teknologi untuk mendukung kegiatan bisnis masyarakatnya. Sedangkan Indonesia? Nanti dulu, kita harus jujur sama diri sendiri, apakah sampai saat ini masyarakat sudah mendapatkan kompensasi yang layak? Apakah bangsa ini sudah mendapatkannya? Apakah bisnis akan terus berputar sekiranya perusahaan-perusahaan skala besar itu telah selesai mengeruk kekayaan alam negeri ini? Jawabannya TIDAK. Kenapa tidak? Karena hasilnya tidak dinikmati oleh bangsa ini, karena hasilnya dibawa ke luar, karena hasilnya tidak diinvestasikan kembali di tanah yang telah terenggut kekayaannya. Karena kita lebih memilih diam dan menjadi antek kapitalis itu, dari pada menjadi agen penyelamat bangsa ini“. Dan kami semuanya terdiam untuk semetara. Sebuah pertanyaan pun menggelitik kami “apakah kita sudah memaknai kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya?“

Ditulis dalam pengungsian di jalan kaliurang km 14, dalam asupan ubi goreng yang lezat, dan sambal yang sangat pedas.

Tuesday, August 04, 2009

Antara Mbah Surip, Manohara, dan David Hartanto Wijaya


Saya yakin kawan-kawan semua telah mengenal nama-nama yang menjadi topik pembahasan tulisan ini, Manohara Odelia Pinot, Mbah Surip, dan (mungkin)David Hartanto Wijaya.

Tulisan ini merupakan respon terhadap tayangan sebuah media televisi swasta nasional tentang pernyataan belasungkawa presiden SBY sesaat setelah mendengar kabar kematian Mbah Surip, seorang musisi eksentrik yang baru saja naik daun.

Tidak ada yang salah dari pernyataan itu, dan saya sendiri sangat sependapat dengan pak SBY yang menyatakan salut terhadap semangat Mbah Surip dalam menghasilkan karya-karya secara mandiri. Pak SBY juga kemudian menghimbau aparat pemerintah setempat untuk membantu proses pemakaman mendian Mbah Surip. Sebuah penghargaan yang pantas baginya. Memang perjuangan Mbah Surip dalam menapakkan kakinya di belantika musik Indonesia bukanlah perjuangan mudah. Seiring dengan perjuangan itu kemudian Mbah Surip yang terkenal dengan lagu “Tak Gendong” kemudian tiba-tiba saja menjadi terkenal dan menginspirasi banyak orang. Pernyataan ini juga langsung mengingatkan saya pada pernyataan simpati pak SBY terhadap kasus Manohara yang (katanya) mendapat perlakuan kasar dari suaminya yang merupakan warga negara Malaysia. Saya juga salut dengan perhatian pak SBY ini karena bagaimanapun Manohara adalah warga negara Indonesia yang harus dilindungi oleh negara. Namun bagaimana dengan David Hartanto Wijaya?
David Hartanto Wijaya adalah anak Indonesia yang juga mantan juara olimpiade matematika tingkat dunia yang kemudian menerima tawaran beasiswa untuk melanjutkan studinya di NTU Singapura. Beberapa bulan yang lalu kita dikejutkan oleh berita kematian anak cerdas tersebut di kampusnya. Informasi yang beredar adalah David bunuh diri karena stress akibat beasiswanya dicabut. Pihak keluaga yang melihat banyak kejanggalan dalam kasus kematian David kemudian menduga bahwa David bukan bunuh diri melainkan dibunuh oleh professornya. Hal ini diperkuat oleh data forensik dan dugaan lain sehubungan dengan proyek penting yang sedang dikerjakan David. Dugaan pembunuhan David ini kemudian direspon oleh pemerintah Singapura yang tanpa menunggu hasil persidangan langsung menyatakan bahwa David bunuh diri, bukan dibunuh. Selanjutnya bisa ditebak, semua penyelidikan, penyidikan, dan proses persidangan seolah-olah direkayasa dan diarahkan pada satu kesimpulan “David mati bunuh diri”.
Sejak kematian David, pihak keluarga meminta pemerintah untuk membantu dan memberi dukungan dalam proses pencarian keadilan. Ini juga bukan tanpa sebab, mengingat pemerintah Singapura sudah jauh hari telah mengintervensi kasus ini, dan keluarga David merasa melawan sendirian. Namun ternyata pemerintah tidak bergeming sama sekali. Tidak ada bantuan moral, materil, apalagi pernyataan dukungan atau simpatik atas kematian David dari SBY. Keluarga menggonggong SBY berlalu. Dan terus berlalu. Mungkin diajak berlalu oleh pemerintah Singapura.
Terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi pada David, yang pasti bahwa David adalah anak bangsa yang penuh bakat, cerdas, dan merupakan aset yang tidak ternilai harganya. David adalah pahlawan yang pernah mengharumkan nama bangsa pada olimpiade matematika internasional. David adalah sosok yang sangat pantas mendapat perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah dalam setiap langkahnya. Dalam hidup dan matinya. Rupanya SBY lebih simpatik sama Manohara yang tidak pernah berjasa buat negara dari pada David yang mati dalam usaha mengharumkan nama bangsa di negeri orang. Wallahu Alam.