Skip to main content

Surat Terbuka Buat Bangsa


Dear pak JK dan semua rakyat Indonesia.

Saya dan beberapa orang teman yang tergabung dalam DeltaDelapan Community di Jogja sampai sekarang tidak terdaftar di DPT. Memang kami kebanyakan adalah warga pendatang dari luar Jogja, tapi sama sekali kami tidak mempunyai akses untuk dapat memberikan suara kami di Jogja walaupun sesungguhnya sekarang kami sudah menjadi warga Jogja yang dibuktikan dengan kepemilikan KTP Jogja.

Diluar itu semua, kami yang merupakan intelektual muda dan para pemikir yang mandiri telah berkomitmen bahwa apapun kendala DPT yang menimpa kami, itu tidak akan menghalangi kami untuk bersikap "Lebih Cepat Lebih Baik". Dengan kesadaran penuh kami tidak akan terkebiri oleh keadaan, kami selama ini secara sukarela berkampanye untuk kehidupan bangsa yang bermartabat dan mandiri lewat dunia maya maupun face to face dengan kolega kami. Kami berprinsip bahwa ketidakterdaftaran kami di DPT harus kami bayar dengan me-Lebih Cepat Lebih baik-kan orang-orang disekitar kami. Gugur satu tumbuh seribu, kurang lebih seperti itu.

Kami memang bukan siapa-siapa, dan mungkin tidak pernah akan menjadi siapa-siapa. Kami hanya sekumpulan intelektual muda yang ingin maju dan mandiri, yang walaupun dalam segala keterbatasan tetap tersentuh untuk ikut andil dalam membangun bangsa dengan segala cara yang kami mampu. Akhir kata, saya mengutip kegembiraan salah seorang teman saya setelah berkampanye di facebook. Ini adalah pembicaraan beliau dengan ibunya di kampung halaman.

Waliz : ibu besok pilih siapa?
Ibu : sebenarnya ibu pilih SBY, tapi karena kamu bilang pilih JK, maka ibu ikut kamu aja.
Waliz : betul..bangsa ini harus Lebih Cepat Lebih Baik.. hehehehe...

sebuah perjuangan yang kami mulai dari orang-orang terdekat kami. Salam perjuangan untuk semua bangsa.


Salam,
Sang Syahrir

Comments

Popular posts from this blog

Tekad, Nilai, dan Bentuk

You will get what you desire. Ya, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Klasik. Klasik karena ini ungkapan lama yang sudah melampaui zaman dan masih tetap relevan hingga saat ini. Klasik karena ungkapan sudah sangat teruji dan secara umum dapat diterima oleh kebanyakan kalangan. Saking klasiknya ungkapan ini sehingga ada orang bijak dari seberang sana berkata “berhati-hatilah dengan keinginanmu, karena bisa jadi kamu akan mendapatkannya”. Kalau kita menginginkan jadi orang kaya, maka kita akan mendapatkan kekayaan itu. Kalau kita ingin jadi orang terkenal, maka kita akan jadi orang terkenal. Namun, bagaimana mewujudkan keinginan itu? Inilah fungsinya tekad. Tekad merupakan indikator awal dan utama seberapa besar kita mampu mewujudkan keinginan itu. Semakin kuat tekad seseorang, maka semakin dekat dia dengan keinginannya itu. Seorang yang ingin kaya, jika dia sepanjang hari bekerja keras dan berusaha dengan benar, maka semakin dekat dia dengan kekayaan yang dia idam-idamkan...

TAK TERUNGKAP

Rezki Syahrir Terik mentari menjadi penonton setia siang itu. Angin sepoi-sepoi berhembus diantara dedaunan kelapa yang kering. Ayam jantan kurus mengais-ngais tanah untuk melangsungkan hidupnya yang seolah tidak diperhatikan lagi oleh pemiliknya, sambil sesekali mematuk ke tanah jika mendapat rejeki yang semakin langka baginya. Langit cerah memberi sebuah senyum kecut pada dunia, disambut teriakan oleh lahan persawahan yang kering. Dikayuhnya sepeda ontel yang nyaris menjadi barang antik itu sekuat tenaga. Sehabis sekolah, sapi piaraan tatangganya menunggu untuk digembalakan. Pekerjaan itu sudah hampir setahun ia lakoni. Semenjak kemarau panjang melanda desanya tahun lalu, sawah-sawah menjadi kering membuat sapi kehilangan pekerjaannya. Anak itu menggembalakan sapi tetangganya untuk menambah penghasilan keluarganya yang sudah tidak memiliki sumber tetap. Deejab nama anak itu, nama yang singkat diberikan oleh Abdullah ayahnya, seorang petani yang menginginkan Deejab untuk m...

Essay Seleksi LPDP: Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Sukses Terbesar Dalam Hidupku Sebuah Pencapaian, Sebuah Perspektif Memutuskan untuk besekolah lagi ke jenjang S2 bukanlah pilihan yang mudah buat saya waktu itu. Usia pernikahan yang baru beberapa bulan serta tidak menemukan peluang beasiswa untuk jurusan yang saya inginkan merupakan tantangannya. Permasalahannya adalah biaya besar yang harus disediakan di depan dalam bentuk tabungan bank di negara tersebut. Setelah mengkalkulasi saldo dari buku-buku rekening saya menemukan nilai rupiah yang cukup untuk memenuhi batas minimum yang disyaratkan. Hasil diskusi dengan istri membulatkan tekad saya untuk berangkat dengan biaya sendiri. Saya berjanji untuk berhemat selama di sana, berusaha mencari pekerjaan sambilan, dan secara berkala mengirimkan uang kembali ke Indonesia untuk keperluan sehari-harinya. Begitulah rencananya. Pada puasa ramadhan September 2009, berangkatlah saya dengan meningkalkan istri yang tengah hamil, menempuh jarak lebih dari 10 ribu kilometer seorang diri den...