Skip to main content

Pelayanan Publik dan Pengalaman Masa Kecil



Foto di samping saya ambil di salah satu terminal keberangkatan domestic bandara Soekarno-Hatta Jakarta beberapa waktu yang lalu. Di foto ini tempak sebuah layanan jasa pengemasan bagasi bagi pada penumpang untuk memastikan barang-barang bawaannya aman selama berada di bagasi pesawat. Atau dengan kata lain bagi mereka yang khawatir akan keamanan barang bawaannya. Harga perkoli untuk pengemasan kalau tidak salah berkisar antara 30-40 ribu rupiah. Jasa pengemasan ini sudah berlangsung beberapa lama, mungkin sudah beberapa bulan, mungkin sudah setahun, tapi tepatnya belum dua tahun. Sebuah bisnis baru yang menggiurkan.
Dilihat dari sudut pandang bisnis, layanan jasa pengemasan ini merupakan bisnis yang menarik, karena semakin hari jumlah penumpang pesawat terbang semakin meningkat, ini artinya peluang pasarnya semakin hari semakin besar. Namun, bagaimanakah bisnis ini jika dilihat dari sudut pandang pelayanan public? Mari kita lihat.
Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, bahwa bisnis ini dimulai beberapa bulan yang lalu. Bisnis ini muncul dan berkembang terutama saat ramainya pecurian barang-barang berang berharga di bagasi, terutama di bandara-bandara besar termasuk Soetta. Pada saat itu ramai diberitakan orang-orang yang mengadu akibat kehilangan barang di bagasi. Halaman surat pembaca di media cetak pun tidak luput dari sasaran media pengaduan, mungkin karena melapor ke pihak yang berwenang diaggap tidak akan mendapat respon yang baik. Seiring dengan itu, pihak kepolisian juga dilaporkan menangkap pelaku spesialis pencurian barang bagasi dan jaringannya. Mereka (sudah bisa ditebak) adalah “orang dalam” yang bertugas mengangkat dan memindahkan bagasi penumpang ke pesawat dengan baik dan benar. Intinya, pelaku adalah orang-orang yang bertugas melayani bagasi para penumpang. Akan tetapi pencurian barang-barang bagasi tetap saja terjadi. Seorang teman mengaku pernah kehilangan GPS di bagasi, dan saya sendiri pun pernah kehilangan sejumlah uang hanya karena saya lupa mengeluarkan dompet dari tas yang akan masuk bagasi. Rupanya maraknya penumpang yang kehilangan barang ini dimanfaatkan oleh mereka yang berjiwa bisnis untuk menawarkan jasa pengemasan. Tidak tanggung-tanggung, seluruh bagian barang bawaan dikemas dengan gulungan plastic berlapis-lapis untuk menghindari pembobolan.
Perasaan sedih kemudian muncul. Betapa tidak, hak penumpang untuk mendapatkan pelayanan yang baik di bandara hilang begitu saja akibat keamanan bagasi yang tidak terjamin. Tidak sampai di situ saja, hak itupun kemudian dibajak oleh orang-orang tertentu untuk menawarkan jasa pengemasan bagasi. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah tidak mendapatkan pelayanan yang baik yang semestinya sudah menjadi hak, disuruh bayar pula untuk mendapatkannya. Kritik saya kemudian tertuju kepada pengelola bandara (PT Angkasa Pura). Ketidakmampuan mereka dalam menjaga keamaanan bagasi penumpang bukannya diatasi dengan memperbaiki system keamanan atau tindakan solutif lainnya, malahan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menawarkan jasa keamanan bagasi. Tidak adanya niat baik untuk memperbaiki pelayanan bandara, diperparah dengan menarik ongkos sewa lahan dari pemilik usaha pengemasan. Itupun kalau sang pemilik usaha bukan orang PT. Angkasa Pura itu sendiri atau koleganya.
Tampaknya naiknya harga pajak bandara yang selama ini dijanjikan untuk peningkatan pelayanan, ternyata hanya janji belaka. Tidak ada peningkatan yang berarti, selain jumlah toilet yang bertambah.
Di penghujung tulisan, saya ingin bercerita tentang pengalaman masa kecil.
Saya teringat sebuah kisah dengan seorang teman saya. Awalnya dia seorang yang gemar mencuri sandal di masjid. Senang sekali dia tampaknya dengan kebiasaannya itu. Setelah berulang kali mendapat teguran dari saya, dengan sedikit menyinggung-nyinggung dosa dan Tuhan, dia kemudian beralih kebiasaan. Menjadi penjaga tempat penitipan sandal pun dilakoninya. Pekerjaannya memastikan sandal-sandal para jamaah aman dan tidak tertukar. Sebua pekerjaan yang jauh lebih mulia tentunya daripada mencuri sandal. Semakin lama tampak semakin banyak saja orang yang menitipkan sandalnya. Senang sekali dia tampaknya dengan pekerjaan barunya ini. Lebih senang dari sebelumnya. Sampai suatu saat saya pun bertanya apa rahasia kemajuan “usahanya” ini. Dia pun menjawab dengan bangganya, “kalau aku liat orang yang sandalnya bagus dan tidak dititipkan ke sini, maka sandalnya akan aku curi. Pasti besoknya dia akan menitipkan sandalnya di sini”. Oh my god.

Comments

Popular posts from this blog

Tekad, Nilai, dan Bentuk

You will get what you desire. Ya, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Klasik. Klasik karena ini ungkapan lama yang sudah melampaui zaman dan masih tetap relevan hingga saat ini. Klasik karena ungkapan sudah sangat teruji dan secara umum dapat diterima oleh kebanyakan kalangan. Saking klasiknya ungkapan ini sehingga ada orang bijak dari seberang sana berkata “berhati-hatilah dengan keinginanmu, karena bisa jadi kamu akan mendapatkannya”. Kalau kita menginginkan jadi orang kaya, maka kita akan mendapatkan kekayaan itu. Kalau kita ingin jadi orang terkenal, maka kita akan jadi orang terkenal. Namun, bagaimana mewujudkan keinginan itu? Inilah fungsinya tekad. Tekad merupakan indikator awal dan utama seberapa besar kita mampu mewujudkan keinginan itu. Semakin kuat tekad seseorang, maka semakin dekat dia dengan keinginannya itu. Seorang yang ingin kaya, jika dia sepanjang hari bekerja keras dan berusaha dengan benar, maka semakin dekat dia dengan kekayaan yang dia idam-idamkan...

TAK TERUNGKAP

Rezki Syahrir Terik mentari menjadi penonton setia siang itu. Angin sepoi-sepoi berhembus diantara dedaunan kelapa yang kering. Ayam jantan kurus mengais-ngais tanah untuk melangsungkan hidupnya yang seolah tidak diperhatikan lagi oleh pemiliknya, sambil sesekali mematuk ke tanah jika mendapat rejeki yang semakin langka baginya. Langit cerah memberi sebuah senyum kecut pada dunia, disambut teriakan oleh lahan persawahan yang kering. Dikayuhnya sepeda ontel yang nyaris menjadi barang antik itu sekuat tenaga. Sehabis sekolah, sapi piaraan tatangganya menunggu untuk digembalakan. Pekerjaan itu sudah hampir setahun ia lakoni. Semenjak kemarau panjang melanda desanya tahun lalu, sawah-sawah menjadi kering membuat sapi kehilangan pekerjaannya. Anak itu menggembalakan sapi tetangganya untuk menambah penghasilan keluarganya yang sudah tidak memiliki sumber tetap. Deejab nama anak itu, nama yang singkat diberikan oleh Abdullah ayahnya, seorang petani yang menginginkan Deejab untuk m...

Essay Seleksi LPDP: Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Sukses Terbesar Dalam Hidupku Sebuah Pencapaian, Sebuah Perspektif Memutuskan untuk besekolah lagi ke jenjang S2 bukanlah pilihan yang mudah buat saya waktu itu. Usia pernikahan yang baru beberapa bulan serta tidak menemukan peluang beasiswa untuk jurusan yang saya inginkan merupakan tantangannya. Permasalahannya adalah biaya besar yang harus disediakan di depan dalam bentuk tabungan bank di negara tersebut. Setelah mengkalkulasi saldo dari buku-buku rekening saya menemukan nilai rupiah yang cukup untuk memenuhi batas minimum yang disyaratkan. Hasil diskusi dengan istri membulatkan tekad saya untuk berangkat dengan biaya sendiri. Saya berjanji untuk berhemat selama di sana, berusaha mencari pekerjaan sambilan, dan secara berkala mengirimkan uang kembali ke Indonesia untuk keperluan sehari-harinya. Begitulah rencananya. Pada puasa ramadhan September 2009, berangkatlah saya dengan meningkalkan istri yang tengah hamil, menempuh jarak lebih dari 10 ribu kilometer seorang diri den...