Skip to main content

i don't know

entah mengapa, aku semakin bingung...
mungkin jaraknya yang terlalu dekat
sehingga aku sulit untuk memahami segalanya
atau memang aku tidak mampu untuk melewatinya..
entahlah
aku berharap semuanya akan baik-baik saja


akankan angin itu berlalu dengan kesejukan di ujungnya?

Comments

Popular posts from this blog

Di Tepi Pantai Kolaka

Di tepi pantai Kolaka, aku duduk dan termenung. Pandangan aku arahkan jauh ke depan, melampaui birunya laut, menanti matahari terbenam. Tatapanku tersapu ombak, tertiup angin, merengsek ke dermaga lalu hilang bersama kapal-kapal yang berlayar. Aku berharap pandangan ini meleburkan semua masalah dan mengokohkan niatku dalam hidup. Sudah cukup lama aku berada di sini, kota kecil yang selalu menyimpan kerinduan. Sebulan lebih aku habiskan, sejak kedatanganku yang kesekian kalinya. Ini kali terlama sejak aku meninggalkannya sebelas tahun yang lalu. Tak pernah aku banyangkan akan selama ini sebelumnya. Tuhan memang terkadang aneh, dia punya rencana-rencana yang tidak mampu dijangkau akal manusia. Dia bekerja saja, tetapi tidak pernah aku mendengar Dia berkata apa-apa. Dia melaksanakan semuannya dalam diam. diam... Di tepi pantai Kolaka aku duduk dan termenung... Dari kejauhan tampak tiga buah kapal ferry berlabuh menanti giliran pemberangkatan. Dua puluh lima meter di depanku ada tiga buah...

Gadis Cantik di Pesawat (Bacaan Kaum Intelektual)

Kali ini aku kembali ke kebiasaan lama, mematikan HP sebelum naik pesawat. Kesalahan yang dulu tidak akan aku ulangi lagi. orang saleh tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan langkah pasti aku menuju kursi nomor 11C. Langkahku semakin tegap, ketika dari jauh sudah melihat indikasi menarik dari posisi ini, disebelahnya ada seorang wanita cantik. Aku berpikir, mungkin ini hadiah bagi orang yang selalu memperbaiki diri. Sayangnya, dialektika di warung kopi semalam masih menyisakan kantuk hingga siang ini. Alhasil, mataku langsung terpejam, di sebelah wanita cantik itu tentunya. Masih mengantuk rasanya ketika aku memaksa membuka mata, tidak ingin melewatkan pesona si wanita. Ekor mataku menangkap cewek ini benar-benar cantik. Kulitnya halus mulus, cerah dan nyaris transparan mungkin. Sontak aku membayangkan, sekiranya gadis ini minum kopi pastilah alirannya yang hitam itu akan tampak melewati tenggorokannya dengan jelas, saking beningnya dia. Eksplorasi visualku kemudian t...

Terselip di Hijaunya Andalas

Petang menghantarkanku pada sebuah pemandangan indah matahari terbenam di punggung Gunung Dempo. Kawasan pengunungan yang menawarkan kearifan lokal masyarakat perkebunan teh yang dikelola perusaahaan milik pemerintah, beserta segala kesederhanaan dan keramahannya. Dengan berlatar belakang pemandangan indah ini, aku memandang ke kota Pagar Alam yang mulai tertutup kabut tipis nan sejuk. Kota yang berjarak sekitar 300 km dari Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Kota yang para penduduknya merasa tidak perlu memarkir kendaraan dengan rapi, karena jumlahnya tidak begitu banyak dan pasti ada ruang kosong. Aku menghirup udara segar yang semakin langka aku dapatkan, menahannya seolah-olah tidak ingin melepaskannya, dan menghembuskannya perlahan untuk mendapatkan udara segar lainnya. Tanpa terasa malam datang menjemput. Dari kejauhan tampak cahaya lampu kota yang gemerlap, ada beberapa bagian yang berkedip, mungkin cahanya lampunya lebih redup. Pemandangan yang menarik. Malam semakin larut...